Perjalanan Motivator Tunanetra

Ini adalah tulisan dari Motivator Berbakat “Eko Ramaditya Adikara”. Meski terbatas namun tetap Maximal. Go Maximise Indonesia!!!

Eko Ramaditya : memotivasi Kalbar

Kali ini, saya akan memulai perjalanan sebagai motivator dengan memenuhi undangan rekan-rekan di Kalimantan Barat, tepatnya Pontianak. Di sana, saya akan bertemu dengan ratusan tunanetra dan penghuni panti asuhan sekitar, serta murid-murid sekolah dan mahasiswa yang telah siap menanti kehadiran saya. Seperti apa ceritanya? Nantikan catatan berikutnya…!

Audiens : workshop di Pontianak

PS: Saya akan berangkat — seorang diri — dari Jakarta dengan menumpang pesawat Lion Air pada Jum’at 13 Juni 2008 pukul 15:00 WIB, dan kembali dengan penerbangan yang sama pada Minggu 15 Juni 2008 pukul 09:15 WIB (tiba kembali di Jakarta). Mohon do’a restu dan dukungan dari rekan-rekan sekalian…

Ramaditya Goes to Pontianak

Kali ini, saya akan memulai perjalanan sebagai motivator dengan memenuhi undangan rekan-rekan di Kalimantan Barat, tepatnya Pontianak.

Inilah kisah perjalanan saya ke Pontianak, 13 s/d 15 Juni 2008!

Jum’at 13 Juni 2008 – 14:05 WIB: Setelah menempuh perjalanan dengan taksi sekitar 1 jam, akhirnya saya tiba juga di bandara udara internasional Soekarno Hatta. Setibanya disana, saya langsung menuju terminal 1a, karena saya akan menggunakan jasa penerbangan Lion Air jurusan Jakarta-Pontianak yang akan terbang pada pukul 15:00 WIB.

Saat tiba di bagian pemeriksaan barang…

Petugas Bandara (Kaget karena mendeteksi bahan logam yang mirip bom): “Mas, stop dulu Mas! Boleh saya periksa bawaannya?”

Rama : “Oh? Boleh! Silahkan Mas!”

Petugas Bandara (Menunjuk bahan logam yang berada dalam tas saya): “Boleh saya tahu barang apa ini?”

Rama menjelaskan: “Ini tongkat lipat tunanetra, Mas. Saya memakainya untuk bepergian. Ya, seperti tunanetra pada umumnya.”

Petugas Bandara: “Tapi bukannya tongkat tunanetra itu bentuknya besar dan nggak bisa dilipat, dan bahannya bukan dari logam?”

Rama : “Mas, itu namanya tongkat putih, biasanya terbuat dari kayu atau bahan padat. Nah yang ini versi modern dari tongkat putih, lebih kecil dan praktis karena bisa dilipat. Jadi, ini bukan bom ya Mas. Lihat nih, saya akan pakai sekarang.”

Saya kemudian mengambil tongkat lipat dari tangan petugas bandara, lalu membuka lipatan tongkat tersebut. Dengan sekali ayun dan diiringi suara seperti pelatuk pistol yang ditarik, potongan-potongan tongkat berjumlah empat buah itu pun tersambung menjadi sebuah tongkat panjang.

Rama: “Nih, aman khan, Mas?”

Petugas Bandara: “Iya Mas. Maaf ya sudah menginterogasi. Silahkan masuk ke ruang tunggu…”

Rama : “Terima kasih!”

Setelah menemukan ruang tunggu dan duduk menunggu…

Setelah tiga puluh menit menunggu, akhirnya penumpang dipersilahkan naik ke pesawat masing-masing. Karena kesulitan berjalan sendiri, saya memutuskan untuk menunggu sampai keramaian mereda.

Pramugari (Datang menghampiri, lalu mengulurkan tangan untuk menuntun): “Mas, mari naik ke pesawat dengan saya! Tadi saya sudah diberitahu petugas tentang Mas, jadi selama dalam perjalanan ini saya yang akan bertanggungjawab.”

Rama : “Oh? Iya, baik Mbak, terima kasih!”

Lalu, saya pun berjalan di belakang pramugari. Selama dalam perjalanan menuju pesawat, saya sempat menerangkan kepada pramugari tentang bagaimana cara menuntun tunanetra dengan baik dan benar. Caranya adalah; sang penuntun berjalan di depan, lalu tunanetra yang dituntun memegang siku bagian belakang dari tangan si penuntun. Kalau jalannya terlalu sempit dan harus jalan berbaris, maka sang penuntun harus melipat tangannya ke belakang seperti sikap istirahat, sehingga yang dituntun dapat berjalan sebaris di belakangnya.

Setelah 5 menit berjalan, akhirnya saya tiba juga di dalam pesawat. Saya mendapat bangku bernomor 26E yang letaknya di dekat jendela. Namun, atas pertimbangan keselamatan dan kemudahan dalam memberikan pertolongan — standarisasi untuk melayani penumpang dengan cacat fisik — maka saya diminta untuk bertukar bangku dengan penumpang yang duduknya dekat dengan pramugari.

Setelah pramugari selesai memberi instruksi dan petunjuk mengenai sabuk pengaman, pelampung, masker udara dan kelengkapan lain, pesawat mulai bergerak tanda penerbangan telah dimulai.

Dalam perjalanan yang memakan waktu kira-kira 1 jam 15 menit itu, saya asyik berbincang-bincang dengan pramugari dan awak pesawat yang bertugas di dekat saya. Mereka sempat menanyakan perihal kepergian saya ke kota Pontianak (Kalimantan Barat), yang saya lakukan sendiri tanpa didampingi siapapun. Kepergian itu sendiri adalah dalam rangka memenuhi undangan dari keluarga Bapak Gershom Hadi Santoso, yang ingin menghadirkan saya sebagai salah satu pembicara dalam acara motivasi bertajuk “Impossible is Nothing.”

Ramaditya : Gershom’s fam

Bicara soal acara tersebut; Pak Gershom ingin sekali dapat membagikan semangat yang saya miliki kepada anak-anak dan remaja di kotanya, yang menurutnya perlu untuk didorong dan dimotivasi agar mereka mampu menjadi manusia yang jauh lebih baik.

Jum’at 13 Juni 2008 – 16:30 WIB: Akhirnya, pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di bandara udara Pontianak. Tak lama kemudian, saya pun bertemu dengan Pak Gershom beserta isteri dan puterinya yang telah menunggu saya di bandara. Kami pun berkenalan dan segera berangkat menuju rumah kediaman Pak Gershom.

Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya saya pun tiba di rumah Pak Gershom. Saya langsung disambut oleh anak-anak Pak Gershom yang kebetulan sedang berkumpul di ruang tamu bersama teman-temann mereka.

Yang menarik perhatian saya adalah seorang wanita berusia kira-kira 34 tahun. Namanya Mungcu (menurut dia, arti namanya adalah mutiara). Saat saya iseng-iseng menyapanya dengan bahasa Inggris, Mungcu menjawabnya dengan baik. Lalu, apa yang membuat saya tertarik? Ternyata, Mungcu juga seorang tunanetra!

Selama ini, saya sering bertemu dengan tunanetra wanita di kota-kota besar. Mungkin sudah menjadi hal yang lumrah bila mereka pun punya semangat yang tinggi untuk belajar dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai manusia yang sempurna. Namun, perlu diketahui bahwa di daerah yang jauh dari jangkauan yayasan atau lembaga yang menangani kebutuhan tunanetra, contohnya di perkampungan atau pegunungan atau kota kecil, hal tersebut sangat langka terjadi.

Kembali ke Mungcu. Menurut Pak Gershom, wanita yang mengalami kebutaan sejak usia 3 tahun ini punya semangat yang luar biasa. Meskipun tidak pernah disekolahkan dan diremehkan oleh lingkungan sekitarnya, impian Mungcu untuk dapat mempelajari hal-hal positif dan cita-citanya yang mulia untuk membagikan apapun yang dipelajarinya — yang selama ini dipendamnya — begitu kuat, dan itu semua membuat Mungcu bertahan hingga sekarang.

“Kadang suka minder juga, habisnya tidak ada teman yang seperti saya disini, tapi saya ingin maju.” Itulah penggalan kalimat yang dilontarkan Mungcu di sela-sela pelajaran singkatnya — bersama saya — menggunakan tongkat dan alat tulis Braille yang dikenal dengan nama Riglet.

Ramaditya : Mengajar bagaimana menggunakakan alat tulis braile

Pak Gershom menambahkan, dirinya sudah melihat semangat itu sejak pertama kali ia bertemu dengan Mungcu di gereja tempat mereka beribadah. Sejak saat itulah — kira-kira setahun yang lalu — Pak Gershom memboyong Mungcu ke rumahnya untuk belajar banyak hal, mulai dari setrika, mencuci, dan mengetik dengan mesin ketik. Semua itu dilakukan Mungcu di sela-sela tugas utamanya merawat Glenda, puteri bungsu Pak Gershom yang masih balita. “Saya ingin Mungcu bisa merasakan bagaimana rasanya bekerja dan menghasilkan uang sendiri,” tutur Pak Gershom.

Ramaditya : tips mandiri

Sebagai informasi, Pak Gershom juga membuka kursus bimbingan belajar dan pendidikan komputer di rumahnya. Beliau juga melayani pemesanan komputer rakitan dan laptop untuk wilayah kota Pontianak.

Sabtu 14 Juni 2008 – 12:00 WIB: Inilah hari H yang dinanti-nanti. Sebelum acara dimulai, Pak Gershom mengenalkan saya pada Novi dan Yulian, dua orang yang bertanggungjawab menyelenggarakan acara ini. Saya pun berkenalan dengan Pak Gideon Suhartoyo, seorang motivator botak — mantan preman yang menguasai terminal bus dan pelabuhan — asal Semarang yang juga hadir memenuhi undangan Pak Gershom sebagai pembicara.

Setelah makan siang, Pak Gershom mengajak saya ke Tugu Khatulistiwa, yang menurut beliau adalah tempat paling legendaris di kota Pontianak. “Tiap tanggal 23 Maret atau 23 September, posisi tugu ini akan berada tepat di lintasan garis Khatulistiwa. Jadi, kalau kita berdiri di tengah hari, maka tak akan ada bayangan yang terlihat, baik dari tubuh kita maupun bangunan sekitar,” ungkap Pak Gershom.

Ramaditya : Welcome to Khatulistiwa

Pada pukul 17:00, saya beserta rombongan berangkat menuju lokasi acara yang digelar di restoran Fajar. Iring-iringan rombongan — yang terdiri dari mobil Pak Gershom dan Oplet yang disewa untuk membawa anak-anak di lingkungan rumah Pak Gershom — tiba di lokasi acara sekitar pukul 17:30, setengah jam sebelum acara utama dimulai.

Setelah acara dibuka dengan sambutan-sambutan dari panitia, tiba giliran saya untuk tampil. Dengan penuh semangat, saya mulai membagikan motivasi lewat kisah-kisah keluarga dan apa saja yang telah mereka lakukan untuk mendukung saya, perjalanan pendidikan — lagi-lagi didukung penuh oleh keluarga — yang penuh perjuangan, serta berbagai pencapaian termasuk profesi yang saya geluti hingga sekarang.

Saya juga menyampaikan bahwa sesuatu yang sepertinya tidak mungkin sebenarnya dapat kita lakukan. Contohnya adalah bagaimana saya bisa sampai ke Pontianak tanpa didampingi siapapun. Sepintas lalu, sepertinya memang tidak mungkin. Namun, jika kita meningkatkan pengetahuan dan mempelajari bagaimana cara saya bisa melakukan itu, maka hal tersebut menjadi mungkin. Intinya, semuanya mungkin saja untuk dilakukan asalkan kita memiliki bekal pengetahuan yang tinggi, yang tentu saja diperoleh dari proses belajar yang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Di akhir motivasi, saya minta Mungcu untuk maju ke depan dan menyampaikan cita-citanya di hadapan puluhan orang yang hadir sore itu. Suasana haru menyelimuti ruangan itu, seiring dengan musik dan do’a penutup yang membawa kami semua merenungi dan mensyukuri karunia yang telah Tuhan berikan. Ada yang mengamini, ada yang tertunduk, ada yang memuja Tuhan, dan ada yang menangis… Semuanya jadi satu, dalam sebuah semangat baru yang saya harapkan akan terus ada dalam diri semua yang hadir sore itu. Tak hanya disitu saja, namun hingga seterusnya, hingga semangat itu pun dapat dibagikan kepada orang lain yang membutuhkannya…

Acara Impossible is Nothing sendiri juga diramaikan dengan hiburan band yang dimainkan oleh grup band dari SMA-SMA sekitar kota Pontianak, dan ditutup dengan makan malam serta foto bersama.

Entertaiment : band pelajar

Demikianlah kisah perjalanan motivasi saya ke Pontianak. Semoga cerita ini akan terus berlanjut…, berlanjut ke petualangan dan perjalanan yang jauh lebih hebat dan dahsyat, untuk membuktikan bahwa Tuhan telah menciptakan makhluknya dengan karunia yang sempurna dan terbaik…

Home

2 Responses to “Perjalanan Motivator Tunanetra”

  1. kairos73 Says:

    Oya temen: tambahan dikit nih, ramaditya tuh seorang tunanetra, tp kere abis. bayangin dia bs ngoperasikan komputer trus sekarang kerjanya jd jurnalis+komposer musik untuk game.

  2. kairos73 Says:

    ayo jgn ketinggalan, masak kalah dgn yg tidak sempurna secara fisik sih???

Comments are closed.